RESENSI BUKU YATIM BADRI

RESENSI BUKU

Nama Pengarang          : Dr. Yatim Badri, M.A

Judul Buku                   : Sejarah Peradaban Islam

Bab yang dibahas         : VII (Tujuh)

Tahun Terbit                 : 2007

Tempat Terbit               : Jakarta

Tebal Buku                   : XIV + 338 Halaman

Penerbit                        : PT Raja Grafindo Persada

Sebuah buku karangan yang berupa ilmiah yang ditulis oleh Dr. Badri Yatim,MA ini membahas sejarah peradaban islam yang tersistematis dan aktual. Hal ini dikarenakan hasil dari penelitian yang lebih dari 10 tahunan. Penerbit PT Raja Grasindo Persada memang sudah pas dalam mencetak dan memperbanyak kopian buku ini. Pembahasan tentang sejarah islam akansangat menarik dengan kupasan persoalan kemunduran terhadap sejarah peradaban islam tersebut

“Puncak kemajuan yang dicapai oleh kerajaan usmani terjadi pada masa pemerintahan Sultan Al Qanuni (1520-1566). Puncak kemajuan kerajaan safawi pada masa pemerintahan Abbas I (1588-1628 M), dan puncak kemajuan kerajaan mughal pada masa Sultan Akbar (1542-1605 M). setelah masa tiga orang raja besar di tiga kerajaan tersebut, kerajaan – kerajaan itu mulai mengalami kemunduran. Akan tetapi proses kemunduran itu berlangsung dalam kecepatan yang berbeda-beda. Kerajaan usmani, setelah Sultan Sulaiman Al-qanuni wafat masih tetap kuat, bahkan masih mampu melakukan ekspansi ke beberapa daerah di Eropa Timur. Berbeda dengan dua kerajaan besar yang lain kerajaan usmani adalah yang terbesar. Karena itu meskipun banyak mengalami kemunduran yang cukup drastis di akhir abad ke 17 dan abad ke 18 M, ia tetap dipandang sebagai sebuah negara besar yang disegani oleh lawan. Kerajaan ini baru berakhir pada abad ke 20 M. Kemunduran yang paling drastis dialami oleh kerajaan safawi. Setelah Abbas raja-raja kerajaan safawi adalah orang-orang yang lemah yang mengakibatkan kerajaan ini dengan cepat mengalami kemunduran. Hanya satu abad setelah ditinggalkan  oleh Abbas  kerajaan ini hancur.” (Dr. Badri Yatim,MA, 2007:155-156)

Pembahasan tentang proses kemunduran tiga kerajaan besar ini disusun berdasarkan urutan keruntuhan masing-masing kerajaan yang ada pada sat itu. Tentunya kerajaan yang hampir besar dan menguasai peradaban masanya. yaitu 1. kemunduran dan kehancuran kerajaan Safawi. 2. kemunduran dan kehancuran kerajaan Mughal dan 3. kemunduran dan kehancuran kerajaan Usmani.

Sepeninggal Abbas I kerajaan Safawi berturut-turut diperintah oleh enam raja , yaitu Safi Mirza (1628-1642 M), Abbas II (1642-1694 M), Sulaiman (1667-1694 M) Husain (1694-1722 M), Tahmasp II ( 1722-1732 M) dan Abbas II (1733-1736 M). Pada masa raja-raja tersebut, kondisi kerajaan safawi tidak menunjukkan grafik naik dan berkembang, tetapi justru memperlihatkan kemunduran yang akhirnya membawa kepada kehancuran.[1]

Kemajuan yang pernah dicapai oleh Abbas I segera menurun karena Safi Mirza cucu Abbas I adalah seorang pemimpin yang lemah. Ia sangat kejam terhadap pembesar-pembesar kerajaan kerana sifat pencemburunya.

Akibatnya rakyat bersikap masa bodoh terhadap pemerintah. Ia diganti oleh Shah Husain yang alim. Dan sering memaksakan pendapatnya terhadap penganut aliran Sunni. Sikap ini membangkitkan kemarahan golongan Sunni Afghanistan, sehingga mereka berontak dan berhasil mengakhiri kekuasaan Dinasti Safawi.

Pemberontakan bangsa Afganistan tersebut terjadi pertama kali pada tahun 1709 M di bawah pimpinan Mir Vays yang berhasil merebut wilayah Qandahar diantara sebab-sebab kemunduran dan kehancuran kerajaan safawi ialah konflik berkepanjangan dengan kerajaan Usmani. Bagi kerajaan Usmani berdirinya kerajaan safawi yang beraliran Syi’ah merupakan ancaman lansung terhadapwilayah kekuasaannya. Konflik antara dua kerajaan tersebut berlangsung lama, meskipun pernah berhenti sejenak ketika mencapai perdamaian pada masa Shah Abbas I. Namun tak lama kemudian Abbas meneruskan konflik tersebut. Dan setelah itu dapat dikatakan tidak ada lagi perdamaian antara dua kerajaan tersebut.

Dekadensi moral yang melanda sebagian para pemimpin kerajaan Safawi. Ini turut mempercepat proses kehancuran kerajaan Safawi. Sulaiman disamping pecandu berat narkotik, juga menyenangi kehidupan malam berserta harem-haremnya selama tujuh tahun tanpa sekalipun menyempatkan diri menangani pemerintahan. Begitu juga Sultan Husein.

”Penyebab penting lainnya adalah karena pasukan ghulam (budak-budak) yang dibentuk oleh Abbas I tidak memiliki  semangat perang yang tinggi seperti Qizilbash. Hal ini disebabkan karena pasukan tersebut tidak disiapkan secara terlatih dan tidak melalui proses pendidikan rohani seperti yang dialami oleh Qizilbash. Sementara itu anggota Qizilbash yang baru ternyata tidak memiliki militansi dan semangat yang sama dengan anggota Qizilbash sebelumnya.Tidak kalah penting dari sebab-sebab di atas adalah seringnya terjadi konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana.” (Dr. Badri Yatim,MA, 2007:158-159)

Selanjutnya, Setelah satu setengah abad dinasti mughal berada dipuncak kejayaannya, para pelanjut Aurangzeb tidak sanggup mempertahankan kebesaran yang telah dibina oleh sultan-sultan sebelumnya.[2] Pada abad ke 18 M kerajaan ini memasuki masa-masa kemunduran. Kekuasaan politiknya mulai merosot, suksesi kepemimpinan di tingkat pusat menjadi ajang perebutan, gerakan separatis Hindu di India bagian Tengah, Sikh di belahan utara dan islam di bagian timur semakin lama semakin mengancam. Sementara itu para pedagang  inggris untuk pertama kalinya diizinkan oleh Jehangir menanamkan modal di India, dengan dukungan oleh kekuatan bersenjata semakin kuat menguasai wilayah pantai.

Pada masa Aurangzeb, pemberontakan terhadap pemerintah pusat memang sudah muncul tetapi dapat diatasi. Pemberontakan ini bermula dari tindakan-tindakan  Aurangzeb yang dengan keras menetapkan pemikiran purtanismenya. Setelah ia wafat penerusnya rata-rata lemah dan tidak mampu menghadapi problema yang ditinggalkannya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kekuasaan dinasti mughal itu mundur pada satu setengah abad terakhir dan membawa kehancuran pada tahun 1858 M, yaitu :

  1. 1. ”Terjadinya stagnasi dalam pembinaan kekuasaan militer sehingga operasi militer inggris di wilayah- wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuasaan maritim mughal. Begitu juga kekuatan pasukan darat. Bahkan mereka kurang terampil dalam mengoperasikan persenjataan buatan mughal sediri.
  2. 2. Kemerosotan moral dan hidup mewah dikalangan elit politik yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.
  3. 3. Pendekatan Aurangzeb yang terlampau kasar dalam melaksanakan ide-ide puritan dan cenderung asketisnya, sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh sultan sesudahnya.
  4. Semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.” (Dr. Badri Yatim,MA, 2007:163)

Pembahasan ini dilanjutkan pada masa turki usmani. Setelah sultan sulaiman Al-Qanuni wafat (1566) kerajaan turki Usmani mulai memasuki fase kemundurannya. Akan tetapi sebagai sebuah kerajaan yang sangat besar dan kuat kemunduran itu tidak langsung terlihat. Sultan sulaiman Al- Qanuni diganti oleh Salim II (1566-1573). Dimasa pemerintahannya terjadi pertempuran antara armada laut kerajaan usmani dengan armada laut kristen yang terdiri dari angkatan laut spanyol , angkatan laut bundukia, angkatan laut sri paus, dan sebagian kapal para pendeta Malta yang dipimpin Don Juan dari Spanyol. Pertempuran itu terjadi di selat liponto (Yunani). Dalam pertempuran ini turki usmani mengalami kekalahan yang mengakibatkan Tunisia dapat direbut oleh musuh.

Banyak faktor yang menyebabkan kerajaan usmani itu mengalami kemunduran diantaranya :

  1. 1. ”Wilayah kekuasaan yang sangat luas, administrasi pemerintahan bagi suatu negara yang amat luas wilayahnya sangat rumit dan kompleks, sementara administrasi pemerintahan kerajaan usmani tidak beres. Dipihak lain penguasa sangat berambisi menguasai wilayah yang sangat luas sehingga mereka terlibat perang terus-menerus dengan berbagai bangsa. Hal ini tentu menyedot banyak potensi yang seharusnya dapat digunakan untuk membangun negara.
  2. 2. Heterogenitas penduduk, sebagai kerajaan besar Turki Usmani menguasai wilayah yang amat luas mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Siria, Hejaz, dan Yaman Di Asia; Mesir, Libia, Tunis, Dan Aljazair Di Afrika; Dan Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria, Dan Rumania Di Eropa. Wilayah yang luas itu didiami oleh penduduk yang beragam baik dari segi agama, ras, etnis, maupun adat istiadat. Untuk mengatur penduduk yang beragam dan tersebar di wilayah yang luas itu diperlukan suatu organisasi pemerintah yang teratur.
  3. 3. Kelemahan para penguasa, sepeninggal sulaiman Al-Qanuni kerajaan usmni diperintah oleh sultan-sultan yang emah, baik dalam kepribadian terutama dalam kepemimpinannya. Akibatnya pemerintahan menjadi kacau. Kekacauan itu tidak pernah dapat diatasi secara sempurna bahkan semakin lama semakin semakin parah.
  4. 4. Budaya pungli, pungli merupakan perbuatan yang sudah umum terjadi dalam kerajaan usmani. Setiap jabatan hendak diraih oleh seseorang harus di bayar dengan sogokan kepada orang yang berhak memberikan jabatan tersebut. Berjangkitnya budaya pungli ini mengakibatkan dekadensi moral kian merajalela yang membuat pejabat semakin rapuh.
  5. 5. Pemberontakan tentara Jenissari, kemajuan ekspansi kerajaan usmani banyak ditentukan oleh kuatnya tentara jenissari. Dengan demikian dapat dibayangkan bagaimana kalau tentara ini memberontak. Pemberontakan tentara Jenissari terjadi sebanyak empat kali, yaitu pada tahun 1525 M,1632 M, 1727 M, dean 1826 M.
  6. 6. Merosotnya ekonomi, akibat perang yang tak pernah berhenti perekonomian negara merosot. Pendapatan berkurang sementara belanja negara sangat besar termasuk untuk biaya perang.
  7. 7. Terjadinya stagnasi dalam lapangan ilmu dan teknologi kerajaan usmani kurang berhasil dalam pengembangan ilmu kekuatan militer. Kemajuan militer yang tidak diimbangi oleh kemajuan dan teknologi menyebabkan kerajaan ini tidak sanggup mengahadapi persenjataan musuh dari Eropa yang lebih maju.” (Dr. Badri Yatim,MA, 2007:167-168)

Bersamaan waktunya dengan kemunduran tiga kerajaan islam di periode pertengahan sejarah islam. Eropa barat sedang mengalami kemajuan dengan pesat. Hal ini berbanding terbalik dengan masa klasik sejarah islam . Ketika itu peradaban islam dapat dikatakan paling maju, memancarkan sinarnya keseluruh dunia, sementara eropa sedang berada dalam kebodohan dan keterbelakangan. Kemajuan eropa memang bersumber dari khazanah ilmu pengetahuan dan metode berfikir islam yang rasional.

”Gerakan-gerakan renains melahirkan perubahan-perubahan besar dalam sejarah dunia. Abas ke 16 dan 17 M merupakan abad yang paling penting bagi eropa sementara pada akhir abad ke 17 itu pula dunia islam mulai mengalami kemunduran. Dengan lahirnya renains Eropa bangkit kembali untuk mengejar ketinggalan mereka pada masa kebodohan dan kegelapan. Mereka menyelidiki rahasia islam menaklukkan lautan, dan menjelajahi benua yang sebelumnya masih diliputi kegelapan.  Banyak penemunan-penemuan dalam segala lapangan ilmu pengetahuan dan kehidupan yang mereka peroleh” (Dr. Badri Yatim,MA, 2007:169)

Terangkatnya perekonomian bangsa eropa disusul pula dengan penemuan dan perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Kemudian melahirkan revolusi industri yang di eropa. Dengan demikian eropa menjadi penguasa lautan dan bebas melakukan kegiatan ekonomi dan perdagangan dari ke seluruh dunia. Tanpa mendapat hambatan berarti dari lawa-lawan yang masih menggunakan persenjataan tradisional.[3]

Sementara itu kemerosotan kaum muslimin tidak terbatas dalam bidang ilmu dan kebudayaan saja, melainkan juga di segala bidang. Mereka ketinggalan dari Eropa dalam industri perang padahal keunggulan Turki Usmani di bidang ini pada masa-masa sebelumnya diakui oleh seluruh dunia.

Benturan-benturan antara kerajaan islam dan kekuatan eropa itu menyadarkan umat islam bahwa memang sudah jauh ketinggalan dari eropa. Kesadaran itulah yang menyebabkan umat islam di masa modern terpaksa harus banyak belajar dari Eropa. Perimbangan kekuatan antara umat islam dan Eropa berubah dengan cepat. Diantara kemajuan eropa dan kemunduran islam terbentang jurang yang sangat lebar dan dalam. Dalam perkembangan berikutnya daerah-daerah islam hampir seluruhnya berada dibawah kekuasaan bangsa eropa.

KESIMPULAN

Sudah jelas, dalam pembahasan buku sejarah peradaban islam pada bab I dikatakan bahwa sebuah sejarah harus dilihat siapa penulisnya dan bagaimana kondisi psikologisnya. Akan tetapi, sepertinya Dr. Badri Yatim MA, melupakan hal ini. Secara teliti kia akan melihat ada delapan catatan kaki yang diambil Dr. Badri Yatim MA dari beberapa penulis barat/eropa/amerika.

Bagi kita, bahwa jelas mereka akan meninggalkan satu atau dua bahkan lebih bukti sejarah yang membesarkan nama islam. Hal ini mungkin saja mempengaruhi keabsahan dari dasar buku mereka. Seharusnya, Dr. Badri Yatim MA, lebih teliti dalam memasukkan referensi dari penulis barat.

Gaya penulisan oleh Dr. Badri Yatim, MA, yang menggunakan metode narasi seakan-akan peresensi sedang membaca novel klasik. Ini memudahkan peresensi dalam menganalisa dan memaknai setiap maksud dan tujuan yang dituliskan oleh Dr. Badri Yatim,MA.

Secara maksimal, pembaca akan menemukan makna yang ingin disampaikan oleh Dr. Badri Yatim,MA. Dalam penulisan buku dirsah islamiyah II ini. Jadi, pembaca buku ini khususnya pada pembahasan bab ini tidak melihat faktor usia dan golongan serta jenjang kependidikan para pembaca. Para siswa SLTP, SLTA dan Mahasiswa bisa membaca dan menganalisa buku sejarah peradaban islam ini dengan tiada menemukan kesulitan yang berarti.

Referensi :

Dr. Badri Yatim,MA. Sejarah Peradaban Islam. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta : 2007.


[1] Dr. Badri Yatim,MA. Sejarah Peradaban Islam. (jakarta, PT Rja Grafindo Persada;2007) hlm 156

[2] Dr. Badri Yatim,MA, Sejarah Peradaban islam (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada) 2007:159

[3] Ibid : 170

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: